← Kembali ke daftar

Borobudur Temple

Kode45
Waktu Upload2026-09-10 16:34:23
ID Place0x2e7a8cf009a7d697:0xdd34334744dc3cb
Jumlah Review Google104.065
Jumlah Data380
Pages200
Sort Typehighest_rating
Folder Tanggal202609
Nama File20260910_163423_0x2e7a8cf009a7d697:0xdd34334744dc3cb.json
URL Foto Foto Borobudur Temple

Isi JSON

Menampilkan 151200 dari 380 review   |   50 review/halaman
No Author Rating Review Waktu Language
151 Elangbaskoro 4 Only in Indonesia, this is best Temple in the world. With dynamic arcitecture, and amazing precission. Must visit, because wonderfull place in the world. 1758714922543 en
152 FEA. AtGmail 4 The temple itself is imposing and well preserved. We booked our tickets online the night before for USD28 each. The website requested the wearing of modest white garments but perhaps only 25% of visitors were in white. There were about 30 visitors in our group which was logistically challenging because you couldn't all hear the guide and we kept getting stragglers because it was hard to stay together in a busy environment. Access to the temple structure itself was very slow because there was only one person with a manual scanner when earlier there had been multiple automated gates. Each group had 1 hour on the structure, at the end of which you had a repeated crush to be scanned off the structure by one manually operated scanner. The site entrance is about 1km away from the structure and upon arrival you are taken by a 'stretched golf buggy' to a grouping point where you are given slippers with woven leaf uppers to wear (to minimise wear on the structure). In reality flipflops are less wearing, but it probably avoids visitors wearing hard soled shoes. After visiting the structure upon return to the golf buggy station we were told it would cost IDR20,000 per person to go back to the site entrance. I thought this was sharp practice having already paid IDR455,000 pp to visit. Why not make it IDR475,000 pp and be clear about the costs? At the exit, you were directed through a labyrinth (not joking) of curio stalls - IKEA-style. This was also not appreciated and I most definitely would not have been buying anything by the time I could actually return to my car. This is completely unnecessary and not what a visitor wants after walking in the heat around the site and up and down the structure. At this point you're trying to find some cover and refreshment. 1754722163722 en
153 tri indah ayu sasmita 3 After all these years, sekalinya balik ke borobudur udah sangat komersil.<br>Di musim yang sangat panas ini aku sangat tidak merekomendasikan main ke borobudur, candi ataupun sekitarnya. Karena super crowded dan panas polllllll.<br>Kemanamana pake shuttle yang antrimya ga beraturan, petugas kaya kewalahan menghadapi pengunjung yg mostly susah diatur.<br>Budaya indonesia memang hancur bgt kalau urusan antri mengantri. Sangat disayangkan.<br>Padahal banyak banget tourist, dan aku menyaksikan sendiri para tourist itu kaya insecure & takut melihat orgorg indonesia yg pada gragas kalau urusan antri.<br>Mudahmudahan kedepannya petugas bisa lebih tegas lg dalam mengatur para pengunjung. 1766486097239 id
154 Your Things 3 Service dan guide nya cukup membantu. Agak kaget sama harganya ya. Jelas orang lokal sangat amat mikir kl mau ke sini apalagi bawa keluarga. Bisa abis banyak cuma buat tiket masuknya aja.<br><br>Petunjuk shuttle buruk abis. Udah cape najak eh ternyata free shuttle baliknya jauh banget anjir. Gue bawa toddler ke sini. Sumpah sekarang ga kids friendly karna bikin capek. Shutlle berbayar jg lumayan tiketnya 25rb/orang. Jalan keluar candi dibikin pusing muter2 di area perbelanjaan. Buang2 waktu.<br><br>Nilai plusnya?<br>Kalo dibanding terakhir kali saya ke sini, area nya memang jauh lebih rapi. Well managed. Ada sandal, air mineral dan spunbag nya. But ya, cukup sekali aja. Mungkin bakal balik lg after 10-12 years. Nunggu anak gede buat pengalaman dia aja. 1768841976803 id
155 Fajar N 3 Mix Feeling ketika kesini saat weekday namun lgs aja saran dan kritik saya sbg berikut:<br>1.pintu masuk dibuat ada drop off didalam atau jika hujan deras minimal ada petugas yg membantu calon wisatawan dr depan dengan memayungi atau dengan cara lain sehingga tidak perlu hujan2an<br>2.petugas perlu diberikan pengetahuan terkait standar keamanan apa saja yg sudah dilakukan didalam candi (misal keset karet ditangga) jika hujan deras/basah bukan menyerahkan kembali ke "kebijaksanaan" wisatawan. Tidak semua wisatawan pakai sepatu antislip.<br>3.plang petunjuk arah masih kurang terutama ketika akan keluar dari komplek candi hanya "EXIT" namun dibeberapa titik ada yg membingungkan dan tidak ada petunjuknya. Menempatkan petugas dibeberapa titik membantu namun menurut saya seharusnya bisa diminalisir dengan plang yg jelas.<br>4.proses KELUAR dari lobby yg JELAS ARAHNYA dan ADA petugas yg benar2 mengarahkan.. ini adalah POINT paling PENTING. Saya paham memang harus mendukung UMKM lokal contoh saya memakai jasa foto dan cetak foto dilokasi candi borobudur namun menutup pintu keluar dengan tulisan BUKAN PINTU KELUAR agar wisatawan "keliling" pasar sambil "mengikuti arah keluar" yg ujungnya zonk hanya mengelilingi pasar adalah hal konyol, melelahkan dan menguras emosi. Menurut saya ini akan FATAL sekali jika terjadi kebakaran atau bencana alam. Saya tidak tahu apakah ini ulah oknum2 tertentu namun ketiadaan petugas menambah parah masalah ini. Tidak ada wisatawan akan belanja jika "dibuat LELAH dan BINGUNG" walaupun harganya murah dan bersaing.<br>Sekali lagi Borobudur adalah Objek Wisata yg Indah dan Historis yg perlu dikunjungi jika ke Jogja namun Managemen perlu berbenah terkait hal2 diatas agar Borobudur bisa menjadi Objek wisata yg NYAMAN bagi wisatawan.<br>Terima Kasih. 1775152579410 id
156 Sukarmat In 3 Lokasi wisata yang sudah dikomersilkan.<br>Tiket 50rb di kaki candi dan 120rb masuk candi.<br>Dari parkiran Mobil harus jalan kaki sekitar 1km sampai shelter kereta shuttle keberangkatan. Sayangnya kereta shuttle ini tidak sampai dekat candi, alias cuma sampai shelter kereta tiba yang masih perlu jalan kaki lagi sekitar 1km samping kaki candi. Jika ingin sampai kaki candi naik kereta yang berbayar 20rb per orang.<br>Sehat sih tapi kasihan anak-anak dan ibu ibu.<br>Not recommended... 1774591927675
157 Rissa Nameika 3 Kedua kali nya ke borobudur, tapi yg pertama waktu lebaran thn 2017/18 ga masuk cuman di depan loket masuk aja. Karena penuh.<br><br>Tahun 2025 ini tempatnya baru, banyak gedung2 baru, parkir mobil jadi satu tempat, aku beli tiket online ditraveloka. Parkir mobil, lalu jalan ke gedung kanan kiri toko oleh2 yg deket pandopo, lumayan jauh bagi org yg ga suka jalan kaki.<br><br>Ada sewa stroller 70ribu, sewa kursi roda dan jasa org nya 200ribu. Begitu udh scan tiket kita menuju antrian shuttle bis, ramee poll padahal weekday, kalau mau jalan skitar 700 meter. Dari berhentian shuttle masih jalan lagi menuju temple borobudur nya. Ada jasa sewa payung 10ribu, karena pas aku dtg terik matahari tinggi, menurut aku sangat tidak cocok bawa bayi dan batita, karena jalan nya jauh, tidak boleh bawa makanan hanya air minum, padahal aku bawa anak 1 tahun, bawa cemilan buah tidak boleh masuk pas di scan tiket harus dititip. sampai pintu masuk loket yg dulu ada satu pendopo jual makanan/minuman tapi rampeee poll ga jadi antri. ada restoran setelah kita turun dari temple nya dan itu agak jauh tapi resto mewah, orang kampung udik kaya aku ga cocok masuk lah kayanya, isinya turis.<br>Toilet bersih, musholla juga bersih.<br><br>Toko oleh2 atau org jualan ada di gedung dekat parkiran. Harga oleh2 kaya setelan anak 30ribu, daster 100ribu 4.<br><br>Sedih sebenernya hanya boleh bawa minum, dimana kita jalan jauh bgt, belum sampe plataran candi, aqua 600 ml sudah habis. Anak2 kehausan dan kelaparan.<br><br>Banyak yg bilang borobudur skrg ga cocok buat warga lokal, cocok nya hanya untuk turis. Bisa dibilang iya bisa tidak. Silakan buktikan sendiri. 1756885839729 id
158 Salwa Riuma 3 Candi tercantik menurut aku.<br>Tapi sayang jalan dari parkiran menuju candinya sekarang lumayan jauh 1752160890208 id
159 IkaNuraddini Rahmah 3 Area borobudur sudah mengalami banyak perubahan, jadi lebih bersih dan asri.<br>Hanya saja parkiran terlalu jauh jadi ga ramah anak dan manula. Mohon disediakan escalator atau shuttle dari parkiran karena jauh sekali bisa 1 Km dari parkiran ke pintu masuk, belum lagi dari pintu masuk ke area candi.<br>Jika mungkin, dilakukan pengaturan bagi penjual, karena terlalu banyak pedagang, kasihan juga jarang yang mampir.<br>Kalo bisa ada atraksi cara membatik, cara menenun, membuat gerabah, dan kerajinan lainnya, 1751117569808 id
160 Guruh 3 Baru datang karena salah pintu masuk, langsung di kejar naik motor entah petugas/apa baju biru ada borobudurnya, berasa dikejar debt collector/mata elang, dia kasih tahu kalau pintu masuknya baru. Saya bilang baik pak, akhirnya mau cek map. Dia bilang "di map salah itu pak, udah dihapus, sini saya antarin bayar seikhlasnya". Saya bilang gak perlu pak.. langsung maksa konvoy, saya nya gak gerak, saya di samperin lagi. Dia bilang "20ribu aja pak". Saya bilang engga, akhirnya saya pergi dr tempat itu. Ternyata banyak yg nungguin dipinggir jalan, nunggu orang luar kota salah jalan<br><br>Manajemen antrian borobudur, duhh... bikin geleng2 kepala. Kalau mau contoh sistem antrian yang bagus coba tiru Taman Safari Bali deh. Itu dua jempol buat mereka.<br><br>Saya beli tiket pelataran. Ada pilihan tiket yg naik juga (premium), pakai gelang dan akses bisa langsung. Better dari awal antri langsung dipisah dikasih pembatas mana yang premium mana yg reguler. Sudah sewajarnya yg bayar premium (lebih mahal dari tiket saya) lebih diperhatikan sejak awal masuk. Kejadiannya pas saya antiri, yg premium kecampur sama reguler. Pas ditanya yg pake gelang pisah, duluan. Tiap kali sesi ditanyain itu. Jadi ngga rapi dr awal.<br><br>Udah sampe depan, ternyata baru tahu ada yg diatas kelas premium lagi, mereka sih pas koordinasi satu sama lain katanya grup private. Jadi yg reguler juga makin lama nunggunya. Better sekalian yg premium dibedain aja kendarannya jadi tahu yg mana yg harus ditunggu.<br><br>Yg museum borobudur, kayaknya kalau ada acara tu baru di rawat/perbaiki semua tamanny. Kalau lagi gak ada acara dibiarin aja tanamannya. Harus nya bagus ada teratai. Pas saya sampe sana teratai pada ngga terawat.<br><br>Borobudur nya bagus, tapi manajemen wisatanya kurang. 1750938841745 id
161 Bobby Chandra 3 Waktu saya datang sedang renovasi jadi parkir dipindahkan sementara ke berbagai lokasi yang dikelola pribadi, agak berantakan dan rawan pungli. Saya parkir 200 meter dari pintu masuk tapi harus berjalan 1km dari pintu keluar.<br>Saya ambil tiket pelataran dan sesuai ekspektasi, cuma terkesan kurang petunjuk di dalam. Ada musium kapal dan borobudur tapi tidak ada yang mengarahkan (saya tahu dari supir golf kart pada saat diantar ke pintu masuk).<br>Lokasi keluar harus melewati deretan UMKM yang menjual souvenir, saya bisa mengerti tapi jalannya saya rasa hampir 1km, sangat melelahkan untuk anak kecil dan lansia. Harusnya tidak perlu sepanjang itu.<br>Borobudurnya bagus menurut saya cuma perlu penunjuk arah yang lebih baik dari pengelola. 1718616309632 id
162 deri slyrova 3 Ternyata ada kuota untuk naik ke atas, cuma 1200 tiket per hari.<br>Datang sore hari pasti ga kebagian kalau OTS. Better reserve via IG dan bayar.<br>Jadi cuma bisa di tamannya saja bayar 50k.<br>Untuk yg malas jalan, bisa naik golf car atau delman start dari 20k perorang.<br>Tempatnya lumayan luas dan termaintain kebersihannya.<br>Ada beberapa spot air minum juga, tp banyak juga yg rusak. Ada beberapa toilet dan vending mechine juga. 1691679266394
163 rilinsen samra 3 Sy setuju jika harga ticket dibuat sedikit lebih mahal agar yang datang bukan sembarang orang shg warisan budaya kita ini tetap terjaga..sy pernah datang sebelum harga ticket murah (40k) tp lingkungan candi jadi kotor, banyak coretan2 dr tangan jahil dan semrawut sekali.. Tp skrng semuanya terjaga rapih dan bersih..<br>Kekurangannya, ketika keluar dr area candi, kita harus naik shuttle bus dan membayar lagipRp. 20k/org..sedangkan shuttle yg gratis, sangat jauh sekali..hal ini sangat tidak menyenangkan krn sdh bayar mahal di pintu masuk..seolah olah ini jebakan betmen yg mengharuskan kita utk naik yg berbayar dikarenakan sdh terlalu capek utk menjangkau fasilitas gratisnya akibat sdh kelelahan ketika berada di atas candi.. 1778730099660 id
164 Prawira Natapraja 3 Terlalu di komersilkan,..saya dari Lampung jauh2 ingin berkunjung malah gak bisa masuk,..alasan tiket sudah HBS padahal di candi msh kosong.<br>Dari masuk menuju candiborobudur sudah di kenakan tiket @ Rp 25 ribu,..naik delman Rp 25 ribu.mau msk ke candi suruh bayar lagi.mumet 1735715390168
165 Izul Galaxy 3 2025 Penataan lebih rapi dan terjaga. Area pelataran penuh bunga dan ramah disabilitas.<br><br>Tiket mahal sehingga menghambat diseminasi pengetahuan tentang kecerdasan arsitektur klasik nusantara & nilai luhur di relief.<br><br>Sayang sekali masyarakat tak diberi akses murah terhadap warisan budayanya, megah tapi sedikit yang mengerti, buat apa dan siapa Tuan-Tuan?! 1765019607509
166 cencent 3 Menurut gw buat tempat wisata skala gede gini lebih better kalo punya parkiran dalem area. Karena sepengalaman gw parkir luar area, okelah lumayan deket dari pintu masuk, tapi jauh bet bet bet dari exit tample nya, karena kita harus ngelewati pasar nya. Dan ini sepertinya the only way exit karena gada sign yg ngarahin alternatif exit. Alangkah baiknya kalau parkir didekat kan dengan exit temple, dan ada alternatif exit selain lewat pasar, okelah gw ngerti metode ini membantu perekonomian lokal, dan gw tau ada opsi sewa semacem cart yg berbayar, tp gw sebagai visitor ingin dapet experience yg nyaman sewajarnya aja. Seperti di prambanan, semua terasa balance. 1716805424478 id
167 Ira Santa 3 Dateng hari senin dan gatau kalo senin gabisa naik ke puncak. Bangunannya udah banyak yg copot si ya. Untung terawat jadi masih enak liatnya☺️ Wcnya juga bersih. Harga tiketnya 50k, beli di traveloka 48k. Kurang nyaman sama pedagang diluar. Maksa bgt pdhl udah dibilang gamau beli. 1705535552602 id
168 januar ishak 3 sekarang masuk candi pakai guide yg menjelaskan ttng sejarah candi dan tidak boleh pakai sepatu, diganti dengan sendal upanat untuk menjaga kelestarian candi borobudur. jalan keluar jauh bgt dah harus ngikutin rute keliling2 pasar.. tiketnya mahal 120 ribu plus guide dan 1 guide membawa 10 orng.. klu tnpan guide 50.000 tpi tidak bisa naik ke atas.. cuma dibawah saja 1686980441293 id
169 Ahmad N Al-Baarri (IFT Staff) 3 Nyaman sih dengan sistem masuk per kelompok, sayangnya penjualnya garang garang iih serem lebih baik lari tapi ga bisa karena terjebak dalam labirin exit 😵 pusing jalurnya entah memang gitu atau sengaja dibelak belokin 1780099637167 id
170 rudi h 3 Sedang ada pembersihan saat ke sini, dan nggak bisa naik ke atas. Area nya luas, jalan masuk nggak terlalu jauh, hanya jalan keluar diputar putar biar melewati pedagang pedagang dulu...<br>Akses jalan di antara warung warung souvenir nya becek, apalagi pas hujan...mohon jadi perhatian pengelola agar warung warung nya di rapikan dan nggak kumuh.. 1677218275611
171 ahmada mochtar 3 Secara Umum tempat yang baru lebih Luas dan Megah, tp ada beberapa Note dr sya:<br>1. Tempatnya panas(mungkin kategori msh baru dan pohon-pohon belum tumbuh sempurna)<br>2. Toilet/WC menurut sya minim dan terbatas, sya 3 kali ingin menggunakan toilet tp tidak tersedia(Air Mati dan Tutup dan dikunci)<br>Akses jauh utk yg dpt parkir di Q dan depan Joglo tengah, kedepannya mungkin bisa di perhatikan lg.Teroma Kasih 1764407139757 id
172 Agus Setiawan 3 Pelayanan dari parkir sampai pintu masuk muter2/ber-belit2.<br>Bayar tiket mahal(walaupun harapan terjaga candi)tapi tidak sebanding dengan pelayanan sangat jelek.<br>Waktu mau ke pelataran candi diantar(buggy car/listrik) tapi pulang harus bayar lagi per orang.<br>Terus janji waktu beli tiket antar jemput gimana pengelola apakah tiket masuk tidak cukup untuk antar jemput? 1769433476768 id
173 Silfia Oktafiyana 3 Ke borobudur hari senin, petugas bilang gak bisa naik kepelataran candi, di sekitar candi ada gajah, ada museum, tapi kita muter dah capek gak nemu² gajah, nemunya museum arca candi nya.. Yaudah kesitu aja. Kalo hari selasa-minggu katanya boleh naik.. 1625405184112
174 Nurhidayat 3 Bintang 3 dulu, karena walaupun sudah kearah penataan yg jauh lebih baik, tapi masih banyak kesemrawutan dgn sistem baru ini<br>1. Entrance n exit gate masih banyak error n gate kedikitan klo misal masuk kendaraan berbarengan. Malah pas exit palang pintu jd manual krn katanya error. Jadi bayar parkir manual jg ke petugas dan harga nya ga bisa dipertanggung jawabkan bemer salah nya atau sebagian masuk kantong<br>2. Kurang signage yg jelas dan permanen mulai dari parkiran seharusnya ada penamaan misal parkir timur, barat dll jd pas keluar ga sulit cari dimana kita parkir. Mkn dikasi juga map lay out parkir. Lalu dr parkiran menuju entrance ada tp sedikit sekali, kecil dan hanya tempelan dr kertas. Knp ga dibikin yg lebih permanen, jelas dan modern dan ada map lay out di sudut2 ruangan. Begitu juga pas balik cari parkir dimana, saking luasnya bikin amat sangat bingung<br>3. Saya rasa petugas masih kurang melayani dan kurang respek atau ramah kepada pengunjung. Harus lebih profesional krn ini tempat wisata kelas dunia dan dilihat orang dr manapun. Malah pas baru mau naik candi naik ada petugas scan QR code gelang yg menggerutu atau berkata tidak pantas dengan bahasa Jawa ke seorang turis asing hanya karena si turis bingung pas mau naik candi<br>4. Harus tingkatkan masalah queu line shuttle waktu terutama ketika balik dari candi. Tidak ada queu line atau satupun petugas yg mengatur. Ketika shuttle datang belum berhenti pun pengunjung langsung lari2 berlomba utk naik tanpa peduli keselamatan. Yg datang duluan ada yg sampe nunggu 4-5 kali kelewat shuttle krn kedorong2 pengunjung yg baru datang. Ga ada petugas satupun yg mengatur. Malah sy sempat emosi sekali ketika menunggu lama, ada shuttle yg malah mau berhenti ketika di stop pengunjung yg sedang duduk2 di resto. Padahal yg sudah lama menunggu ada dalam antrian. Ini yang paling berantakan sih. Malu ada wisatawan asing yg ikut antrian lihat tingkah laku pengunjung ga pake antri, petugas yg tidak ada profrional dan bisa dibilang kampungan utk selevel borobudur. Mkn dia lihat seperti itulah orang Indonesia dengan budaya tanpa antrinya. Akhirnya sang wisatawan saya lihat memilih jalan kaki utk balik.<br><br>Over all yg diluar itu dengan sistem guide dan pembatasan orang yg naik sampe ke atas sudah sangat bagus. Mudah2an hal2 diatas dapat ditingkatkan lagi. Candi nya sudah kelas dunia, tapi juga harus didukung profesionalitas dan mental petugas dan masyarakat yang kelas dunia juga 1734902066907 id
175 Fajrudin Akbar 3 Salah satu destinasi yang wajib dikunjungi oleh para wisatawan baik luar maupun lokal. Sayangnya sdh tidak dapat naik keatas, semenjak covid.<br><br>Saran untuk pengelola, pintu keluarnya tolong jangan terlalu jauh dan muter-muter mengelilingi pedagang-pedagang. 1673865805896
176 Maplelattenotes 3 *Ticket too pricey..<br>- For foreigner:<br>Adult: 25 USD<br>Children (3-10 years old): 15 USD<br><br>- For domestic tourist:<br>Adult:<br>Rp 50.000 (weekdays) and Rp 60.000 (weekend)<br><br>Children:<br>3-10 yearsold must pay Rp 25.000.<br><br>Recommend untuk datang sekitar pukul 04.00 PM, agar tidak terlalu panas dan bisa lihat beautiful sunset.<br><br>Tidak ada perubahan signifikan sejak dulu. Aneh deh ini kan warisan budaya kenapa harga tiketnya dipatok semahal ini? Di negara lain seperti Korea Selatan, Thailand dan sebagainya wisata warisan budaya banyak yang digratiskan. Tapi tetap terawat. Tidak seperti wisata candi borobudur, yang justru harga tiketnya semakin hari semakin mencengkik.<br><br>Harga kenaikan tiketnya sangat cepat, tapi tidak disertai dengan peningkatan pelayanan dan fasilitas yang berarti. Terutama bagi wisatawan asing, sangat tidak masuk akal sekali harga tiketnya dengan apa yang didapat.<br><br>- Tidak banyak disediakan tempat duduk untuk pengunjung, padahal jalan yang harus ditempuh jauh. Kasihan para orangtua yang sudah sepuh tapi ingin berkunjung ke sini. Saat mereka ingin beristirahat sejenak di tengah jalan tidak tersedia tempat duduk. Terpaksa harus duduk di emperan.<br><br>- Tidak ada restoran untuk bersantai dan makan. Adanya cuma warung-warung makan biasa.<br><br>- Toilet sangat sedikit sehingga butuh waktu antre yang lama. Meski harga tiketnya sudah mahal, tapi toiletnya tetap jorok dan bau. Mana toilet yang diparkiran bayar lagi pula. Benar-benar not worth it.<br><br>- Banyak penjual yang menembak harga dan menjual seperti terkesan memaksa ke pengunjung.<br><br>Tidak direkomendasikan untuk yang niatnya ingin wisata refreshing, kecuali yang mau belajar tentang budaya dan sejarah bolehlah. 1580703915433
177 Aryawan Lokantoro 3 Tempat wisata yg sangat bagus, dan kaya akan sejarah. Minus nya: disini banyak sekali pedagang yg memaksa, mengikuti sejak turun dari mobil dari parkiran, barang di sodor sodorkan..malah ada yg memaksa dengan berkata "ayo dibeli, daripada kami ikuti terus"..disitu unsur paksaannya, jadi berasa tidak nyaman. Minusnya itu sih, dari pedagang yg mengganggu. 1672042103178
178 hafidz abdurrahman 3 Area parkir yg sangat luas, karena luasnya baru sampai di loket masuk baju sudah basah keringat, apalagi di area candi. Sudah isediakan tempat2 khusus untuk berfoto di area candi. Buka mulai 06:00 tp ada jg khusus untuk pengunjung yg ingin melihat matahari terbit disediakan paket khusus mulai jam 05:30. Saran untuk pengelola wisata sebaiknya disediakan denah atau penunjuk jalan soalnya saat dari tempat parkir saya bingung dimana loket masuknya 😂 1517065550960
179 Udan Burhanudin 3 Protokol terlalu ketat, suasana adem untuk kawasan. Tidak bisa naik ke stupa 😎😎😎, tour guide terlalu mengarahkan wisatawan untuk sampai di pintu keluar. Jalur menuju parkiran dibuat sedemikian rupa agar wisata wan belanja dulu. 1604897321870
180 Eva Nirwana 3 Dari parkir menuju candi sangat jauh, muter muter, bus pengangkut penumpangnya juga cuma sedikit jadi antri panjang.<br>Tidak recomended untuk membawa balita atau lansia 1738059305791 id
181 Mochtar Kaluku 3 Sampe sini sudah sore. Inget jaman dulu kesini sama saudara2 atau saat study tour. Jadi mumpung lagi disini disempatkan mampir. Candi dan pesona alam disekitarnya masih terasa asri dan penuh nuansa nostalgia. Satu yang disayangkan adalah labirin yang dibuat di pusat souvenir setelah selesai berkunjung. Jalur keluar sengaja dibuat melingkar2 sehingga perjalanan semakin terasa jauh dan melelahkan. Menurut saya harus ada cara lain dimana kiat untuk meningkatkan kesempatan transaksi pedagang di sini bisa maksimal dilakukan tanpa merugikan para pengunjung. 1573313446978
182 Arviana Budimantrias 3 Mungkin kalau kesana jangan waktu liburan, jadi gak begitu padat. Soalnya kalau musim liburan mau naik keatas aja susah. Untuk jalur kesana jika yg tidak bawa kendaraan pribadi mungkin akan sulit. Tapi bisa naik trans jogja 5A atau jalur lainnya ke arah terminal jombor. Dari terminal jombor naik bis turun di terminal borobudur, naik becak kira-kira 15 rb smpe borobudur, lebih praktis. Kalau datang dari bandara naik bis damri saja turun pertigaan borobudur lnjut naik grab.<br>Saran saya naik bis saja sih ke terminal jombor karena lebih hemat kira-kira 50rb uang keluar sudah sampai borobudur. 1578406783600
183 Vitriana Kwan 3 Menurut saya Candi borobudur jauh lebih bagus 30 tahun lalu... Terlihat megah Dan Salah satu icon kebanggaan saya... Tapi Hari ini saya kecewa melihat Candi yg hanya seperti Taman hiburan Dan area pintu keluar yg di puter² sangat tidak di sarankan bagi yg bawa bayi Dan lansia... Kalau saya senang melihat Candi yg megah dari pada hanya seperti sebuah kuncup.. Shuttle yg sudah kita byr dgn harga tiket yg tidak murah tapi pengantaran hny sampai Jalan depan yg kl kita jln kaki sangat jauh.. 1771499011707
184 Fawzy Hidayatullah 3 Candi terbesar di Indonesia, sayangnya saat ini manajemennya kayak membuat pengunjung harus memutari kawasan borobudur yang sangat luas hanya untuk keluar. Ini dikarenakan kita harus melewati restoran, penjual, dan tempat lain.<br>Memutari candi borobudur saja sudah capek apalagi memutari kawasannya.<br>Biaya masuk : 40rb kalau terusan ke prambanan 75rb per orang 1541043939861
185 Daniel Kristanto 3 untuk kategori rekreasi, candi borobudur bisa disebut sebagai rekreasi yang tidak bersahabat, saat awal masuk kita akan bertemu dengan pedagang-pedagang yang menawarkan jualannya secara berlebihan dan memaksa, dari harga tiketnya juga mahal, tempat parkir yang sulit, tempat yang terlalu luas tapi sedikit memiliki tempat berteduh (contoh: pohon), sampai pintu keluarnya yang dibuat memutar jauh agar pedagang dapat menjual barang dagangannya.<br><br>menurut saya destinasi candi borobudur cukuplah dikunjungi sekali seumur hidup saja, karena sangat kapok berkunjung ke sana. 1546777931471
186 - twilight - 3 Penonton agak kecewa berkunjung ke tempat ini karena unt sementara pengunjung tdk boleh naik menyaksikan relief candi yg konon katanya mengandung penuh simbol ajaran Sang Sidharta Gautama..<br>Bayarnya cukup mahal unt msyarakat domestik yg trnyata hanya bisa jalan2 di pelataran skitar bangunan candi..<br>Mobil listriknya juga jual mahal, untuk pulangnya (dari pintu exit) pengunjung dipaksa jalan cukup jauh.. parkiran dan loket tiket bukannya ada persis di depan pintu exit..<br>Daaan yg bikin tdk nyaman pedagang2 asongannya modelny nyerbu dan maksa pengunjung unt membeli.. tapi yg ini bisa dimaklumi, karena inilah yg namanya perjuangan untuk "sesuap nasi" bagi keluarga mereka..<br>Semoga pengelola candi Borobudur bisa segera membuka lagi kesempatan pengunjung unt bisa baik sampai di stupa-stupa di atas.. 1645537587429
187 N Baggaswara 3 Toilet bersih GRATIS...<br>Harga Tiket untuk WNI/ KITAS<br>1. Tiket Masuk Area (tidak naik candi)<br>Dewasa: ± Rp50.000 (WNI)<br>Hanya bisa sampai pelataran, tidak boleh naik ke atas<br>2. Tiket Naik Candi (Climb Up Ticket)<br>Dewasa WNI: ± Rp120.000 – Rp150.000<br>Sudah termasuk:<br>Sandal khusus (upanat)<br>Pemandu (guide)<br>Akses naik sampai puncak<br><br>🎟️ Tiket Wisatawan Asing (Foreigner)<br>1. Tiket Masuk Area (tidak naik candi)<br>Dewasa: sekitar USD 25 (± Rp375.000 – Rp400.000)<br>Anak: sekitar USD 15<br>👉 Hanya sampai pelataran (tidak naik ke atas)<br>2. Tiket Naik Candi (Climb Up)<br>👉 Ini yang bisa naik sampai stupa<br>Dewasa: sekitar USD 35 – USD 45<br>(± Rp550.000 – Rp700.000)<br>Sudah termasuk:<br>Sandal khusus (upanat)<br>Guide wajib<br>Akses ke struktur candi sampai atas 1776624335006 id
188 Purnama Sari 3 Kemarin kesini tp gak boleh naik. Sedih banget huhuhuhu. Tp yaa gimana lg sudah jd ketentuan. Akhirnya cuma fhoto d luar gtu. Klw mau masuk boleh tp sampek pelataran itupun hrus bayar tourgate lg 100k perombongan kan susah ya cari2 orang but satu rombongan maksimal 20 orng. selain uang masuk 50k. Tp krna pas datengnya juga jam makam siang alias istirahat. Jadinya gak bisa masuk walau sampek pelataran. Sebel sih dengan uang 50k perorang cuma dapat gtu doang. Kalai akunya sih gpp soalnya udah pernah ini orangtuaku dan adikku kn belum pernah yaa. Jadi sedikit kecewa. Jauh2 pdhal dr Medan dapetnya cuma photo dari jauh gitu. Tapi ya mau gimana lg. 1597759432063
189 Sofyan Sofyan 3 Jalan masuk di buat mutar, supaya kita melihat semua toko cindra mata, kita jadi capek 1780040361463
190 Ivan Kusuma 3 Dateng lagi kesini setelah terakhir kesini kurang lebih 13 tahun yang lalu. Sangat berbeda dari ketika terakhir saya kesini. Tempat wisata sangat rapi, bersih, rimbun.<br>Namun sayang saya seperti dijebak ketika harus keluar dari kawasan ini. Jalan keluar lumayan panjang daripada ketika masuk. Sangat tidak ramah untuk orang lanjut usia maupun orang tua yang gendong anak (Mungkin kalian bakal bilang 'Salah sendiri ga pakai/sewa stroller? Siapa yg tau kalau pintu keluar jauh kalau kalian sudah lama nggak kesini atau first time kesini?). Kita ga expect bakal jalan sejauh itu. Bagi orang yang punya budget lebih memang ada opsi untuk naik tayo tapi itupun di tempat yg tidak jauh dari pintu keluar. Dari pintu keluar masih harus berjalan melewati lorong labirin penjual UMKM yg jalannya kurang rata tidak seperti kawasan yg ada di dalam zona 1 maupun sebelum pintu keluar. Setelah labirin itu baru bisa sampai ke tempat parkir. Tapi masih jauh karena tempat parkir kami ada di dekat pintu masuk kawasan wisata. masih harus jalan jauh lagi. Mohon untuk pengelola diperbaiki dan dievaluasi untuk kenyamanan pengunjung. 1642856055925
191 Sergio 3 Un precio bastante alto para extranjeros para lo que realmente es. Entiende que tiene que sacar el máximo para mantener el sitio pero comparado con otras actividades en indonesia el precio es desorbitado.<br><br>El guía puso todo su empeño pero los grupos son demasiado grandes como para poder escucharle bien. Nos arrepentimos de no haber contratado el tour privado que la verdad comparado con la entrada en general el precio es bastante asequible. 1779546880585 es
192 Eddy von goufein 3 Expérience relativement décevante par l’organisation. Qu’il s’agisse d’un site UNESCO avec des règles est totalement compréhensible. Néanmoins, ici, il s’agit de vous faire un tour superficiel sans réelle possibilité de découvrir précisément les fresques, les motifs.<br><br>Les employés sont par contre, attentionnés, souriants, présents. Parfait 👍<br><br>Lorsque vous arrivez, on vous fait prendre un bus pour vous emmener à proximité du site. Puis, vous devez attendre le numéro de votre guide qui vous emmènera sur le site. L’attente peut-être longue puisqu’il faut que le tour précédent se termine.<br><br>Une fois votre guide obtenu, par groupe de 10, vous vous dirigez vers le temps… du moins une partie de celui-ci. Tout est fait pour ne pas croiser les autres groupes (c’est très bien) mais vous ratez donc des éléments essentiels… j’ai eu l’impression qu’il s’agissait surtout d’un temple permettant de réaliser toutes nos photos pour Instagram… quel dommage.<br><br>Au sommet, vous aurez donc 10 minutes de temps libre pour explorer les 3 derniers niveaux et faire donc … des photos.<br><br>Une fois sorti, les explications pour le retour sont hasardeuses concernant le bus retour.<br><br>Enfin, pour sortir, il faut repasser par le hall et la sortie officielle est… comme par hasard… fermée 🔐 on vous dit qu’il faut faire le tour. Tour qui passe évidemment par l’ensemble des stands pour te vendre, magnets, carte postale, souvenirs, tissus etc…<br><br>Comme si, ce ticket d’entrée n’avait pas assez épongé le touriste ! 😡<br>Parce que oui, pour ce coup (et ce tour) c’est TRÈS CHER ! 1776575911918 fr
193 N Hardy 3 Beautiful temple. But very, very busy on the day we decided to visit which kind of ruined the experience. Quick to take your entrance money, but unfortunately a bit of a tourist trap exiting the temple grounds which takes you through miriads of stalls and hawkers wanting your money for overpriced tat. Diassapointed. 1779106845589
194 aroundtheworld_mister 3 der Ort wurde vielfach in den höchsten Tönen angekündigt und gelobt, größtes buddhistisches Monument der Welt, buddhistisches Kloster nebenan, unzählige Pilger und Besucher. Meines Erachtens ist dies eine Maschine zum Geld drucken, ausgelegt für Tausende von Besuchern , die hier täglich durchgeschleust werden sollen, vollautomatisch. Die Anlage ist hochmodern, bestens ausgebaut und gepflegt. Dem Ganzen ist ein gigantischer Souvenirbasar vorgeschaltet, der mit extrem verkaufswütigen Personen ausgestattet ist. Elektroautos, kurz geschnittener grüner Rasen und tropische Vegetation sowie asphaltierte Straßen geben der Anlage ein blitzblankes Erscheinungsbild. Zum Besuch wurde uns ein Guide angeordnet, ohne den oder besser die ginge es nicht. Sonnenschirme gibts zu mieten. Eine Einführung an Fotovitrinen gibt’s im Schnelldurchgang. Übers Gelände gehts im Marschschritt. Das Monument kann über extrem steile Treppen meist über 40cm hohe Stufen erklommen werden. Etagenweise kann das Monument aus schwarzem Vulkangestein umlaufen werden. Tausende figurative Relieftafeln erzählen die Geschichte Buddhas in Bildern, die unsere Führung im Schnelldurchgang erläutert. Bei schönem Wasser heizt sich die Anlage durch Sonneneinstrahlung kochend heiß auf. Der Blick über die umliegenden Hügel auf Vulkane in der Ferne ist sehr schön. Der Abstieg, sollten Sie die Strapazen des Aufstiegs tatsächlich auf sich genommen haben, ist mindestens genauso anstrengend wie der Aufstieg. Das lauwarme Fläschchen Wasser, das sie am Eigang bekommen haben, werden Sie jetzt womöglich brauchen. Auf dem Rückweg bietet sich ihnen die Gelegenheit, von diesem Monument noch ein paar Souvenirs einzukaufen, falls Sie das Monument für erinnerungswert halten. Wir waren froh, im Taxi zurück zum Bus und zu einem erfrischenden Getränk in Yogyakarta zurückzukehren. Erinnerungswert fanden wir ein paar nette Besucher, die wir an diesem Tag kennenlernen durften.<br><br>This site has been widely heralded and praised in the most glowing terms—billed as the largest Buddhist monument in the world, complete with an adjacent Buddhist monastery and drawing countless pilgrims and visitors. In my view, however, it is essentially a money-printing machine, designed to funnel thousands of visitors through its gates daily in a fully automated, assembly-line fashion. The complex is ultra-modern, impeccably developed, and meticulously maintained. The entire site is fronted by a gigantic souvenir bazaar staffed by extremely pushy vendors. Electric shuttle carts, immaculately manicured green lawns, lush tropical vegetation, and paved roadways give the facility a gleaming, pristine appearance. For our visit, we were assigned a guide—a necessity, as navigating the site without one (or, in our case, *her*) would have been impossible. Umbrellas are available for rent. Thousands of figurative relief panels tell the story of the Buddha in images—a narrative that our guide rattled through in a whirlwind explanation. On sunny days, the entire complex heats up to a scorching temperature under the intense solar radiation. The view across the surrounding hills toward the distant volcanoes is, however, quite beautiful. The descent—assuming you actually endured the grueling climb up—proves to be at least just as exhausting. You will likely find yourself in need of that small bottle of lukewarm water you were handed at the entrance. On the way out, you are presented with yet another opportunity to purchase souvenirs of the monument—should you deem the site worthy of a keepsake. We were more than happy to hop into a taxi and head back to our bus—and on to a refreshing drink—in Yogyakarta. What we *did* find truly memorable, however, were the lovely fellow visitors we had the pleasure of meeting that day. 1773421698825 de
195 高濱靖雄 3 2026年6月16日行きました。<br>入場料455000ルピヤ、4240円外国人料金です。高過ぎます。<br>内訳は、ガイド料、カート代、スリッパ代が入っています。<br>ガイドさんは少し日本語喋れたのは良かったです。 1782424527421 ja
196 _megapl 3 Pros: the arrival flow is really smooth, neat and helpful. Tourguide is awesome, welcoming and knowledgeable.<br><br>Cons: the exit flow is horrible, confusing and overall a bad experience. They told you the exit is nearby with signs but the truth is that its a maze with no end. 1771075611199 en
197 Ivy Prita 3 Good to be back to history — such an iconic place that always feels timeless.<br>The area is well-organized and clean. To reach the temple, you can choose between taking a paid buggy ride or the free electric shuttle — both eco-friendly options, which is great.<br><br>The only downside is the way out — it feels a bit like a maze since you have to walk through a long souvenir market before exiting. Still, it’s worth the visit for the beauty and serenity of Borobudur itself. ✨ 1761941415514 en
198 Martin 3 MAGNIFICENT TEMPLE.<br><br>Hard to know which road to take when driving there by motorbike when alone. Roads aren't to bad except for the fact theirs hardly any signs at all along the way.<br><br>Was there at 7am to beat the crowds and was going to go to the top but would have had to wait til 11.30am so booked the ground level only tour for 400,000rupiah. A bit of a rip off. I thought I would have at least got up to the second tier for that kind of money.<br><br>Well maintained and clean beautiful site. No real complaints except for the above.<br><br>Buy a ticket in advance so you can get up to the top is my recommendation 1748688720903 en
199 David Vincent 3 Overcomplicated process for such a simple and limited time visit. Incredibly expensive for foreigners when you compare visiting Angkor Wat or other comparable sites. Dislike gaving to run the guantlet of shops to exit the site and end up in a most inconvenient location. The temple is wonderful and well maintained. 1742285069368 en
200 Elias 3 Positiv:<br><br>Der Tempel ist sehr schön und lohnt sich auf jeden Fall. Ausserdem war unser Guide super, er wusste wirklich viel zu erzählen. Selber ist er Muslimisch, scheut sich aber nicht seeehr viel über andere Religionen zu lernen.<br>----<br>Neutral:<br><br>Der Preis ist für indonesien schon eher hoch, aber ich finde es lohnt sich trozdem.<br><br>Man wird zumindest bei heissem Wetter ständig von Sonnenschirm vermietern angesprochen. Bei wohl jedem Wetter zusätzlich von Leuten die für einen Bilder machen (kostenpflichtig natürlich). Daran wird sich aber wohl jeder Tourist in Indonesien schon gewöhnt haben.<br>----<br>Negativ:<br><br>Online findet man nicht so gute Informationen wo der Eingang zur Anlage ist. Er wurde verschoben und ist nicht mehr im Osten sondern im Norden der Anlage.<br><br>Der Ausgang ist ein riesiger Scam. Es gibt viele Exit schilder denen man aber nicht trauen sollte. Sie leiten dich durch ein Labyrinth von Souvenirläden. Wir haben das glücklicherweise gemerkt und sind daran vorbeigelaufen. Wurden dann aber an schluss als wir schon fast draussen waren noch von der Security fehlgeleitet. (Denen kann man also leider auch nicht trauen.) Den Ausgang fanden wir dann direkt bei einem Schild auf dem "no exit" stand. Einer der Ladenbesitzer war so nett und hat uns gesagt dass das doch ein Ausgang ist.<br><br>Ist halt dann etwas Schade wenn das der Letzte Eindruck von allem ist. Trotzdem nochmal: Lohnt sich wirklich, einfach beim Ausgang aufpassen! 1781079818820 de